![]() |
| Marseilles Tianusa |
Jubah merah maron yang tersampir ditubuhnya bukan sekedar atribut seremonial semata; melainkan itu merupakan dari doa, harapan, kerja keras serta perjalanan beribu mil untuk menyebrangi lautan demi sebuah kehormatan.
Bagi Marseilles, setiap langkah ke podium wisudah tidak seindah jalan-jalan di taman eden. Namun, ia membawa napas perantau, anak kampung yang bersaing di negeri Paman Sam, yang dibekali hanya dengan iman, keyakinan sang ayah dan ibu.
Marseilles menyadari di balik kegirangan itu, terselip kerinduan bahwa keberhasilan yang diraihnya merupakan hasil dari doa sang ayah dan ibunya yang tak putus-putus. Butir-butir firman selalu menjadi pedoman hingga saat ini, Matius 6:33.
"Terima kasih papa dan mama, keberhasilan ini untuk mereka. Tanpa doa dan dukungan mereka saya mungkin tidak sampai dititik ini," ungkap Marseilles, pada media ini, Senin (18/5/2026).
Sebelum ke negeri Paman Sam, Marseilles juga pernah menorehkan sejarah akademik di Unkhair Ternate. Dan ia, dinobatkan lulusan terbaik satu fakultas dan universitas dengan IPK 3,99 dan masa studi tercepat tiga tahun empat bulan, dengan predikat Summa Cumlaude.
Hebatnya, prestasinya tak terhenti di dunia akademiknya saja. Namun, ia beberapa kali mengharumkan nama Maluku Utara di kancah Nasional hingga Internasional.
Tingkat Nasional:
- Menjadi Duta Bahasa Nasional (2018)
- Perwakilan Reksa Bahasa Nasional (2019)
- Kegiatan Santiaji Duta Bahasa Nasional (2020)
- Duta Literasi Kemendikbud pada Anak Usia Dini (2021).
Tingkat Internasional:
- Ajang Pertukaran Pemuda Antar Negara Indonesia - China, yang diseleksi oleh PurnaCaraka Indonesia dan Dispora Malut (2016).
Cita-cita Menjadi Duta Bahasa Sejak SMA:
Marseilles bercerita, pada tahun 2018 cita-cita itu diwujudkan, studi akhir di Universitas Khairun Ternate, bukan menjadi halangan baginya, dengan tekad mengikuti pendaftaran awal sebanyak 75 orang dan dinyatakan lolos pemberkasan berpusat di Kantor Bahasa Maluku Utara. Ia adalah salah satu yang terpilih menjadi finalis 10 besar, kemudian terpilih menjadi Duta Bahasa Nasional Maluku Utara setelah melalui berbagai rangkaian seleksi.
"Sejak SMA, sudah berkeinginan menjadi Duta Bahasa karena sempat menyaksikan beberapa finalis bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga yang masih duduk di bangku SMA. Namun, niat itu saya urungkan karena jarak dari tempat tinggal ke lokasi seleksi cukup jauh dan harus menggunakan transportasi laut," ujar Marseilles
"Menebar Asa" di Maluku Utara
Marseilles tidak menginginkan gelar yang didapat hanya menjadi potret dibingkai foto, namun menjadi komitmen kuat untuk membawa transformasi bagi masyarakat, khususnya ditanah kelahirannya, di Maluku Utara.
Kini, Marseilles pulang "Menebar Asa" di Maluku Utara, ini membuktikan bahwa doa dan kerja keras dapat mengubah garis hidup anak kampung yang siap bersaing di kancah global.
"Saya juga telah membuka pelatihan dan kursus Bahasa Inggris, Sains, Matematika dan Komputer di Halmahera Barat," timpalnya
Dari Amerika Serikat ke Maluku Utara, kisah Marseilles jadi contoh nyata bahwa; doa dan kerja keras tak khianati hasil. Ilmu adalah pelita, ia menunjukkan jalan setapak demi setapak dalam kegelapan. Pendidikan merupakan senjata yang mampu mengubah dunia. Dan doa orang tua adalah pilar kekuatan. (ar)
