![]() |
| Umbul-umbul merah putih (dok: LH) |
WEDA, Lensahalmahera.com — Fenomena lesunya minat pembeli dan penurunan omzet pedangan musiman bendera merah putih, karena melemahnya daya beli masyarakat.
Bagi sebagian orang menjual pernak-pernik menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan sebuah momentum berburu keberuntungan
Tetapi bagi, Aldiansyah M (39), bendera merah putih yang digantung dipinggir jalan Desa Lelilef, Halmahera Tengah, memiliki sarat makna yang jauh lebih berharga dari pada sekedar hitung-hitungan matematika
Aldiansyah mengatakan sejak tanggal 1 hingga 17 Agustus 2026 telah menjual bendera merah putih. Aldiansyah menganggap dijual menjelang hari kemerdekaan semakin laris, namun tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Saya kira banyak pembeli atau pengemar bendera merah putih, ternyata tidak sesuai ekspektasi," ungkap Aldiansyah, kepada Lensahalmahera.com, Senin (17/8/2026) saat ditemui.
Aldiansyah mengakui perbedaan peminat bendera merah putih dan bendera piala dunia sangat jauh berbeda. Menurutnya, masyarakat lebih cenderung memilih bendera piala dunia yang baru beberapa bulan berakhir.
"Paling banyak laku itu bendera piala dunia. Saya jual 1 meter Rp 60 ribu dan bendera merah putih 1 meter Rp 40 ribu, tapi yang cepat laku ya bendera piala dunia," katanya
Menurut Aldiansyah, bahwa pengemar bendera piala dunia tak bisa dihitung saking banyak jumlahnya. Peminat bendera piala dunia dalam sehari 10 hingga 20 orang mendatangi tempatnya untuk mancari bendera fans mereka.
"Bendera piala dunia Rp 100 hingga 800 dan saya kaget karna ada yang beli seharga itu. Tapi jelang kemerdekaan RI ke-81 ini, peminat bendera merah putih kurang skali," timpalnya
Aldiansyah terkejut saat bendera merah putih Rp 100 ribu pun pernah ditawarkan pembeli.
"Sampe mereka tawar agar harga diturunkan. Padahal saya sampaikan NKRI itu harga mati. Jadi harga bendera merah putih harga Rp 100 diturunin Rp 80 ribu. Dan kous merah putih hingga Rp 50 ribu," jelasnya
Dari sini timbul pertanyaan apakah rasa kecewa terhadap kondisi sosial dan politik, sehingga melemahkan rasa cinta pada merah putih? Siapa yang harus disalahkan?. (red)
