"Di balik awan gelap, ada air hujan." Ungkapan itu seolah membawa kesejukan sekaligus secercah harapan akan berakhirnya kemarau. Bagi warga, rintik hujan kali ini bukan sekadar air yang jatuh dari langit.
Uniknya, hiruk-pikuk sore hari tak hanya diwarnai kendaraan yang lalu-lalang, tetapi rintik-rintik hujan turun. Suasana tersebut disambut dengan rasa syukur, terutama oleh para pekerja yang sehari-hari beraktivitas di luar ruangan. Sebagian mulai mengenakan rain jacket untuk melindungi diri dari guyuran hujan yang turun perlahan.
Bagi mereka, hujan kali ini bukan sekadar perubahan cuaca. Tanah yang kembali basah menjadi pemandangan yang telah lama dinantikan.
"Syukur so (sudah) turun hujan. Kayanya mo (mau) musim hujan ini," ungkap salah seorang pekerja kepada Lensahalmahera.com, Sabtu (12/9/2026)
Menariknya, muncul pula pertanyaan dari warga mengenai kemungkinan hujan tersebut berkaitan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terutama untuk membantu mengatasi kekeringan maupun potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bumi Fagogoru.
"Jangan-jangan ini hujan buatan, soalnya awan gelap dan hitam," ujar warga tersebut.
Menurutnya, turunnya hujan juga membawa manfaat lain bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi abu dan debu yang selama ini beterbangan akibat kondisi kering.
"Abu (debu) yang beterbangan juga bisa hilang kalau hujan," katanya.
Meski demikian, ia berharap hujan yang mulai turun kali ini dapat berlangsung secara normal dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
"Harapannya hujan, tapi jangan terlalu sama seperti sebelum-sebelumnya, apalagi sampai kebanjiran," harapnya.
Rintik hujan yang membasahi Weda Tengah sore itu membawa harapan. Warga akhirnya kembali merasakan tanah yang basah dan udara yang lebih sejuk—sebuah kesegaran yang sederhana, namun begitu berarti di tengah panjangnya musim kemarau. (asira)
