Gua Boki Maruru Surga Tersembunyi di Halmahera Tengah, Kini jadi Tempat Favorit bagi Wisatawan

Sebarkan:

Keindahan Gua Boki Maruru, Halmahera Tengah (dok: LH)

KEINDAHAN Batu Lubang atau yang familiar dikenal Gua Boki Maruru, selalu memikat hati para pengunjung untuk menjadikan tempat favorit menghilangkan penat. Bebatuan menjulang tinggi dan air jernih biru kehijauan memanjakan mata. Gua Boki Maruru surga tersembunyi di Halmahera Tengah, kini jadi tempat favorit bagi wisatawan. Sapa yang tara tau Gua Boki Maruru?

WEDA, Lensahalmahera.com — Siang itu, Jumat (14/8/2026) teriknya matahari di Bumi Faggogoru sangat menyengat, tetapi tak dapat mengurungkan niat bepergian ke Gua Boki Maruru. Nama Gua Boki Maruru memang sudah familiar di telinga masyakarat Halmahera—Maluku Utara

Gua Boki Maruru terletak di Desa Sagea, Weda Utara, Halmahera Tengah. Waktu tempuh kesana kurang lebih 35 menit dengan jarak sekitar 21 kilometer dari Desa Lelilef.

Selain keindahannya (aisthetikos) yang menakjubkan, kecantikan gua itu selalu memanjakan mata para pengunjung. Destinasi wisata tak hanya menyuguhkan panorama yang memikat hati, namun memberikan pengalaman penuh adrenalin

Para pengunjung disuguhi dengan stalakit dan stalagmit apalagi pesona air yang jernih berwarna biru kehijauan yang memantulkan keindahan menyejukkan mata.

"Waa, ini bagus sekali. Gua ini memiliki keindahan yang luar biasa seperti yang orang-orang bilang. Saya pertama kali kesini," ucap salah satu pengunjung, kepada Lensahalmahera.com, Jumat (14/8/2026)

Menurutnya, destinasi wisata ini menjadi salah satu pilihan favorit untuk berkunjung. Selain itu, surga Halmahera seperti ini perlu dirawat dengan baik.

"Sepertinya ini tempat favorit menghilangkan penat setelah pulang kerja," katanya

Legenda Gua Boki Maruru di Halmahera Tengah

Website Masyarakat Speleologi Indonesia caves.or.id menuliskan pada 1988 dengan judul "Batukarst 88", disebutkan tim Ekspedisi Speleologi Prancis pernah mengukur panjang gua mencapai 7.467 kilometer

Boki Maruru merupakan warisan leluhur yang perlu dirawat agar tetap asri, selain menjadi tempat yang sakral, gua ini memiliki cerita—legenda turun-temurun yang hidup di tengah masyarakat lokal

"Boki" artinya putri, sedangkan "Maruru" berarti menghanyutkan sehingga dapat maknai Boki Maruru adalah putri yang menghanyutkan diri.

Wisatawan menikmati keindahan Boki Maruru

Dilansir dari Cermat.co.id legenda Gua Boki Maruru—cerita yang diabadikan oleh Supriyadi Sudirman dengan mewawancarai beberapa tetua di kampungnya:

"Ngos nom pai joo ma boki, ta nim fei fie re birahi tantei" (putri raja siapakah engkau sehingga begitu cantik dan jelita). Sambil memegang tangan perempuan itu, Mon Takawai bertanya menggunakan bahasa Sawai. Saat itu di gerbang Gua yang dialiri sungai nan jernih.

Dahulu kala, di pulau Halmahera, orang-orang hidup nomaden. Pola hidup seperti itu karena kebiasaan mereka dalam mencari makan, berburu, mencari damar di tengah hutan belantara, membangun rumah-rumah tanpa sekat di dekat sungai-sungai, berkebun dan melakukan aktivitas untuk kelangsungan kehidupan mereka. Begitu juga kisah komunitas—suku Sawai yang hidup di teluk Weda, Halmahera Tengah.

Dalam cerita warga Sagea, Halmahera Tengah, dahulu hidup sepasang suami istri bersama seorang anak laki-laki yang mulai tumbuh dewasa. Anak ini namanya Mon Takawai.

Tokoh pemuda Junaidi Muslim bercerita, kala itu Mon Takawai meminta izin kepada orang tuanya untuk mencari daerah baru di bagian utara. Atas izin orang tuanya, Mon Takawai kemudian pergi berjalan dan memutuskan mendiami sebuah kawasan di dekat muara sungai nan jernih. Geplun nama kawasan itu. Sungainya luas dan panjang. Lewat cerita yang berkembang, sungai ini diberi nama Dagasuli.

Setelah menemukan tempat itu, Mon Takawai kembali lagi di Kobe, dia lalu mengajak orang tuanya untuk pindah dan tinggal di kawasan yang ia temukan. Mereka pun pergi di kawasan Geplun, dan hidup menetap di tepian sungai itu.

Suatu ketika, Mon Takawai menyusuri tepian Sungai Dagasuli sekarang dikenal Sungai Sagea berkeinginan mencari hulu sungai. Setelah cukup jauh perjalanannya, Mon Takawai beristirahat di bawah pohon yang rindang. Cabang pohon itu menjorok ke sungai dengan tali-tali dari pohon bergantungan layaknya ayunan.

Mon Takawai begitu menikmati keindahan alam yang begitu takjub dibuatnya, tiba-tiba dia mendengar samar-samar suara perempuan dari dalam Gua menggema keluar bersamaan air sungai yang mengalir jernih. 

"Mon Takawai pun terkejut mendengar senandung suara itu," Kata Junaidi, Kepala Pemuda Sagea, yang juga seorang sarjana Ilmu Sejarah.

Selasa, 1 Januari 2019 Supriyadi Sudirman menemui Nenek Saoda (55 tahun). Nenek Saoda melanjutkan cerita Mon Takawai:

Saking penasarannya, Mon Takawai turun ke tengah sungai. Tiba-tiba Mon Takawai terkejut melihat sosok seorang perempuan bak bidadari sedang mandi, menghanyutkan tubuhnya dari gua hingga ke tengah sungai, sambil bersenandung.

Sampai di tengah, perempuan itu berenang lagi, kembali masuk ke dalam gua yang terbentuk batu cadas yang tinggi dan kokoh. Perempuan itu kembali membiarkan tubuhnya di bawah arus hingga ke tepian gundukan batu kali.

Mon Takawai kemudian mengendap-endap di semak-semak yang tumbuh di gundukan sekitar sungai sambil mengintip gerak-gerik perempuan yang menikmati air nan jernih itu.

Mon Takawai akhirnya keluar dari semak-semak dan mendekati perempuan itu. Mendengar suara semak-semak yang disibak, perempuan itu menoleh ke arah semak-semak. Perempuan itu pun terkejut, ketika melihat seorang lelaki sedang berjalan kearahnya.

Perempuan itu bergegas, berenang semakin jauh ke dalam gua. Perempuan itu pun menghilang dari pandangan Mon Takawai.

Mon Takawai pun terus berenang hingga ke dalam gua. Dia melihat pemandangan batu-batu putih yang indah di dalam gua itu, sambil mencari perempuan itu. Sesekali Mon Takawai berteriak memanggil perempuan yang belum dikenali.

"Hingga petang tiba, Mon Takawai tak berhasil. Mon Takawai pun pulang kembali ke rumah, kembali ke muara sungai Dagasuli," kata Nene Oda.

Setelah pulang, pikiran Mon Takawai terus dibayang-bayangi oleh kecantikan perempuan itu. Dua hari kemudian, Mon Takawai kembali ke hulu sungai menumpangi perahu. Sambil bersembunyi di dekat gerbang gua, menunggu penuh harap akan datang perempuan yang dilihatnya dua hari lalu, kembali mandi di sungai. 

Namun hingga matahari terbenam, si perempuan itu tak kunjung muncul. Dia pun kembali lagi ke rumah, dilanda kecewa dan semakin gundah.

Beberapa hari kemudian Mon Takawai kembali ke hulu di dekat gerbang gua. Sejak pagi Mon Takawai menunggu dengan sabar, bertekad harus bertemu kembali perempuan ini.

"Apapun risikonya, saya harus bertemu," kata Mon Takawai

Matahari tepat di atas kepala, Mon Takawai mendengar suara senandung sang perempuan itu. Mon Takawai menunduk di semak-semak. Di tengah persembunyiannya Mon Takawai mengatur siasat untuk menangkap perempuan ini. Dengan langkah perlahan tanpa suara, Mon Takawai menyusuri pinggiran sungai turun ke dalam sungai berenang pelan sambil mendekati perempuan tersebut.

Perempuan yang sedang asyik menikmati arus sungai yang menghanyutkan tubuhnya tak menyadari kehadiran Mon Takawai. Matanya terpejam menikmati dinginnya air Sungai Dagasuli.

Tiba-tiba perempuan itu merasa ada tangan yang menggenggam pergelangan tangannya. Perempuan itu terkejut, dan membuka mata lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Mon Takawai.

Perempuan itu pun mendorong tubuh Mon Takawai, namun tangannya tak mampu menandingi Kekuatan Mon Takawai. Perempuan itu sadar bahwa tak mungkin lepas dari genggaman lelaki asing ini, dengan wajah ketakutan perempuan itu akhirnya terdiam dan menundukkan wajahnya.

Mon Takawai berkata, “Ngos nom pai joo ma boki, ta nim fei fie re birahi tantei” (Putri raja siapakah engkau sehingga begitu cantik dan jelita)

Perempuan ini tidak menjawab, hanya berupaya melepaskan diri dari tangan Mon Takawai, genggamannya erat-kuat. Mon Takawai kali ini tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena sudah menunggu kehadiran perempuan itu beberapa hari. Melihat perempuan ini terus diam, Mon Takawai kemudian merangkul tubuh perempuan itu, menggendongnya, dinaikkan ke dalam perahu yang telah disiapkan.

"Karena khawatir perempuan melarikan diri, Mon Takawai mengikat tangan perempuan ini dengan kain pengikat kepalanya, kemudian keluar menyusuri sungai bersama perempuan hingga ke muara lalu membawanya ke rumah," ucap Nene Saoda

Orang tua Mon Takawai terkejut melihat anaknya pulang dengan membawa seorang perempuan, mereka pun bertanya siapakah gerangan perempuan ini.

"Perempuan ini saya bawa dari sebuah gua di kaki bukit. Tujuh hari lalu dia biarkan tubuhnya hanyut dibawa arus sungai. Saat saya mendekat dia lari dan menghilang di dalam gua, hari ini saya menunggunya dan temukan dia, dan saya mau bawa dia ke hadapan Papa dan Mama." ujar Mon Takawai 

Ibu Mon Takawai pun bilang, "Dia sangat cantik, perempuan secantik ini pasti bukan orang sembarangan, Mon Takawai, kamu harus kembalikan perempuan ini ke orang tuanya, kasihan dia."

"Tidak Mama, saya mau dia jadi istri saya," sahut Mon Takawai 

Ibunya memandang wajah Mon Takawai sambil tersenyum, dia pun berkata, "Ya sudah, kamu makan dulu nanti ibu yang bicara dengan dia."

Nama perempuan itu adalah Sarimadago. Setelah dibujuk ibunya Mon Takawai, akhirnya Sarimadago bersedia menikahi Mon Takawai. Mereka pun membangun rumah tangga mereka sendiri, lalu hidup di dekat pesisir pantai di muara Sungai Dagasuli.

Beberapa bulan setelah menikah, Mon Takawai mengajak Sarimadago, menyusuri Sungai Dagasuli menggunakan perahu sampan. Setelah tiba di gerbang gua, Sarimadago berkeinginan mengulang kembali kebiasaan mandi sambil menghanyutkan tubuh di depan gerbang gua.

Mon Takawai berkata kepada istrinya, "Istriku yang cantik laksana putri raja, gerbang gua ini jadi saksi perjuangan cintaku padamu yang biasanya mandi dan menghanyutkan diri di sungai. Gua ini akan aku beri nama yang melambangkan tingkahmu saat itu."

"Nama gua ini kuberikan untuk mengenang kisah awal pertemuan kita. Saya namakan gua ini dengan sebutan Gua Boki Maruru (Gua Putri yang menghanyutkan diri)," ucap Mon Takawai, seperti yang ditutur nene Saoda

Cerita ini turun-temurun bagi masyarakat lokal. Sekarang dikenal dengan Gua Boki Maruru yang artinya putri yang menghanyutkan diri. (red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini